Sabtu, 27 November 2010

Para Pemburu


Begitu banyak rakyat dipelosok negeri yang masih hidup dalam kekurangan, di negeri yang kaya ini. Mereka adalah para pemburu, pejuang hidup yang tidak pernah lelah menjalaninya.
Saya tidak pernah bisa membayangkan seorang nenek tua masih bekerja mencari nafkah, berjalan puluhan kilometer ke dalam hutan, mencari daun kayu putih yang dihargai Rp. 300,-/kilogram. Dan dalam sehari rata-rata beliau hanya mampu mendapatkan uang hanya Rp. 8.000,- Sementara , untuk mendapatkan daun tersebut sangatlah sulit dan berat.
Atau seorang bapak, yang mengais bongkahan belerang di lereng bukit kawah Ijen, dengan resiko terkena gas beracun dan jarak tempuh puluhan kilometer untuk mendapatnya, hanya dihargai Rp. 5.000,-/kilogram dan dalam sehari beliau hanya mendapatkan hasil rata-rata Rp 30.000,-
Begitu juga seorang pemambang emas dengan resiko tertimbun longsor, dan terkadang berhari-hari baru mendapatkan hasil hanya beberapa miligram saja. Dan masih banyak lagi kisah para pemburu di negeri ini. Sungguh luar biasa perjuangan mereka walaupun dengan taruhan nyawa, mereka tak pernah gentar dengan apa yang mereka lakukan. Hanya karena mereka tak mampu berbuat lebih di negeri ini, dan mereka terpaksa karena itulah pilihan yang ada.
Negeri yang seharusnya dapat memberi mereka kehidupan yang layak. Tapi negeri yang makmur dan merdeka ini, tak mampu membuat mereka sejahtera.
Hanya oknum-oknum penjarah dan penjajah negeri ini yang akhirnya dapat hidup sejahtera, tanpa mau melihat mereka orang-orang yang menderita karena ulahnya. Yang hanya bisa menjanjikan pada setiap pemilihan suara, dan pada akhirnya tidak memberikan bukti apa-apa, seolah lupa.
Mereka orang-orang serakah penjarah negeri ini, para penguasa dan pengusaha jahat yang akan menanggung dosa kolektif atas penderitaan rakyat yang semestinya berhak mendapatkan kemakmuran di negeri ini. Negeri tumpah darah yang dulu dibangun dengan keringat, darah, harta dan airmata yang menghendaki rakyatnya menjadi sejahtera. Karena negeri ini milik semua rakyat yang berada didalamnya, bukan milik mereka para penjarah negeri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar